Beredar
✦RUU Ruang Digital Masuk Pembahasan — Redaksi Awasi Isi Lampirannya✦Survei Jalanan KontraPolitik: 62% Anak Muda Merasa Kebijakan Tak Mewakili Mereka✦Pos Besaran 2026: Belanja Perjalanan Naik, Anggaran Riset Tertekan✦Laporan Lapangan: 40 Jam di Barisan Depan, Semua Tercatat✦Polling Suara Rakyat Kini Berjalan — Suaramu Terhitung Real-Time
Kembali ke Beranda
Opini7 mnt baca · 30 Okt 2026

Masa Depan Kita Dijual dalam Ruang Rapat yang Tak Pernah Kita Masuki

RPRaka PramudyaRedaktur OpiniDibaca 7 menit
Masa Depan Kita Dijual dalam Ruang Rapat yang Tak Pernah Kita Masuki

Ada sebuah ruangan yang tidak pernah bisa kita masuki. Di dalamnya, masa depan lebih dari tujuh puluh juta anak muda Indonesia dirumuskan, diperdebatkan, lalu disepakati—tanpa satu pun dari kita yang duduk di kursi itu. Kita selalu disebut sebagai "generasi yang akan mewarisi", tetapi warisannya selalu datang terbungkus rapi: keputusan yang sudah jadi, alasan yang sudah matang, dan ruang kritik yang lebarnya sudah ditentukan.

Perhatikan polanya. Ketika kebijakan yang menyentuh hidup kita dibuat, kita diajak bicara hanya setelah segalanya selesai—di ruang admin, di kolom komentar, di konferensi pers. Pertanyaannya bukan lagi mengapa kita tidak dilibatkan. Pertanyaannya adalah siapa yang selama ini diuntungkan oleh ketidakhadiran kita.

Lalu muncul media sosial: panggung darurat yang kita bangun sendiri. Dari sana, tagar menjadi semester baru, unggahan menjadi arsip rakyat, dan kutipan menjadi poster. Ini bukan tren yang bisa diselesaikan dengan mengecek pagi lalu mengabaikannya menjelang siang. Ini adalah lobi terakhir dari mereka yang tidak punya akses ke ruang rapat.

“Kita tidak sedang meminta kursi di ruangan itu. Kita sedang membangun ruangan baru—dan pintunya terbuka untuk semua yang membawa budi.”

Ada yang meremehkannya sebagai "aktivisme gedekar". Padahal sejarah membuktikan sebaliknya: hampir semua perubahan besar di negeri ini dimulai dari suara yang awalnya dianggap gaduh. Gedekar itu memang canggung, kasar, dan miskin protokol—tetapi ia jujur, dan kejujuran adalah mata uang paling langka di ruangan penuh identitas.

Masalahnya memang bukan politik itu kotor. Masalahnya meja itu terlalu kecil, dan pintunya hanya terbuka untuk mereka yang sudah punya nama. Selama daftar undangannya tidak berubah, suara alternatif harus lebih keras, lebih tepat, dan lebih sulit dibungkam.

Di titik inilah media independen mengambil peran. Kita tidak menunggu siaran pers untuk tahu apa yang terjadi; kita membongkarnya dengan data, menuliskannya dengan perspektif, dan menyebarkannya dengan cara yang dibaca generasi kita. Bukan untuk menjual rasa marah—tetapi untuk mengembalikan hak paling dasar setiap warga: hak untuk tahu sebelum memutuskan.

Masa depan memang tidak pernah dibagikan gratis. Tapi ia bisa diperebutkan—mulai dari hal paling sederhana: berani bertanya, berani mencatat, dan berani tidak percaya begitu saja. Mulai malam ini, jadilah pembaca yang sulit ditipu. Itu protes paling elegan yang kita punya.

Setuju? Tidak setuju? Sama-sama bagus.

Diskusi terbaik tentang tulisan ini berlangsung di Instagram kami.

Diskusikan Isu Ini di Instagram

Tanpa kolom komentar — percakapan yang sebenarnya

Jangan Cuma Nge-Scroll. Bicara.

Ulasan terbaik lahir di ruang yang ramai. Pindah ke warung diskusi kami di Instagram— tempat isu ini dibantah, dilengkapi, dan diperjuangkan.