“Kami Bukan Anti Pemerintah, Kami Pro Rakyat” — Catatan Lapangan dari Barisan Depan
Senin pukul enam pagi, titik kumpul di arah Bundaran masih sepi. Dua jam kemudian, jalan berubah warna: spanduk tangan, surep kampus, dan kaos berlumur debu. Berbeda usia, berbeda asal, satu nada yang sama—dan tidak satu pun dari nada itu berbunyi “benci pada negara”.
Mahasiswa sosiologi semester lima bawa speaker kecil dan daftar tuntutan yang diketik rapi. Pak Sunarto, ojek daring berusia 41 tahun, bergabung saat istirahat antar-pesanan: “Tarif turun, biaya hidup naik. Saya bukan anti pemerintah. Saya pro rakyat. Itu beda jauh.” Guru honorer dari tepi kota datang dengan sepatu sekolah yang sama seperti hari mengajarnya.
Yang paling mengesankan bukan kemarahannya, melainkan kerapiannya. Mereka menyerap sampah sendiri, membuka jalur untuk ambulans, dan membuat antrean air minum gratis yang panjangnya lebih jujur daripada banyak laporan resmi. Protest sebesar ini berjalan dengan etika yang tidak pernah diajarkan siapa pun—dan itu precisely poinnya: negara selalu mengklaim rakyat belum siap. Rakyat sudah membuktikan sebaliknya, dengan tertib.
““Yang kebagian bicara hanya yang berisik. Karena itu kami memilih menjadi berisik.””
“Yang kebagian bicara hanya yang berisik. Karena itu kami memilih menjadi berisik,” kata salah seorang koordinator, sebelum kembali membacakan tuntutan lewat toa yang baterainya hampir habis.
Sore menjelang, mereka bubar dengan tertib, membawa spanduk masing-masing. Besok, pekerjaan rumah tetap di sana—menunggu dibaca, bukan sekadar diliput.
Setuju? Tidak setuju? Sama-sama bagus.
Diskusi terbaik tentang tulisan ini berlangsung di Instagram kami.
Diskusikan Isu Ini di InstagramLanjut Baca
Tanpa kolom komentar — percakapan yang sebenarnya
Jangan Cuma Nge-Scroll. Bicara.
Ulasan terbaik lahir di ruang yang ramai. Pindah ke warung diskusi kami di Instagram— tempat isu ini dibantah, dilengkapi, dan diperjuangkan.