1.200 Hari, Satu Angka: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Pernah Sampai ke Dompet
Lebih dari seribu dua ratus hari, satu angka dibacakan dengan nada yang hampir tidak pernah berubah: pertumbuhan tumbuh, pasar percaya diri, dan iklim investasi dalam keadaan baik. Namun di meja makan, kalimat itu tidak pernah terasa: harga ayam berpindah seperti nilai tukar, dan uang jajan terasa seperti bonus tahunan yang tidak pernah turun.
Ekonom menyebutnya disparitas antara data makro dan pengalaman mikro. Kami menyebutnya lebih sederhana: angka yang disiarkan dan hidup yang dirasakan sedang jalan berlawanan arah, dan tidak satu pun keduanya yang dipaksa menoleh.
Untuk anak muda, ekonomi bukan headline; ia harga kopi yang naik dua kali dalam satu semester, ongkos yang membengkak, iuran kelompok yang ditunda, dan gaji pertama yang tidak pernah naik. Ketika indikator resmi dan dompet pribadi bertengkar, yang dipercaya adalah yang terakhir—karena ia dibayar dengan cara yang paling mahal.
“Data tidak memihak. Tapi orang yang memilih data mana yang disiarkan—bisa saja memihak.”
Data tidak memihak. Tapi orang yang memilih data mana yang disiarkan bisa saja memihak. Karena itu kami membangun grafik kami sendiri: dari harga pasar tradisional, dari tarif ojek daring, dari iuran kelas—bukan hanya dari pers Kongres.
Kita butuh jurnalisme yang berdiri tepat di sela dua angka: yang dibacakan dan yang dirasakan. Karena di sela itulah rakyat sebenarnya tinggal.
Setuju? Tidak setuju? Sama-sama bagus.
Diskusi terbaik tentang tulisan ini berlangsung di Instagram kami.
Diskusikan Isu Ini di InstagramLanjut Baca
Tanpa kolom komentar — percakapan yang sebenarnya
Jangan Cuma Nge-Scroll. Bicara.
Ulasan terbaik lahir di ruang yang ramai. Pindah ke warung diskusi kami di Instagram— tempat isu ini dibantah, dilengkapi, dan diperjuangkan.